HEART – SAAT HUJAN MENCIUM BIBIR

Mataku mengira rintik hujan yang menitis satu persatu dari beranda sepi gubukku. Tidak terhitung banyaknya, lalu aku mendongak ke langit, melihat awan-gemawan bagaikan selendang sakti Sang Hyang, menyelubungi angkasa yang kian kelam dialir waktu. Lalu aku berdiri. Kapan kali terakhir aku mencium titisan hujan? Jiwa teruja. Hatiku girang. Lalu tapak kakiku dimanjai selipar jepun yang…

HEART 23 08 2016

Apakah timbangan di dunia ini, yang setara dengan kasih ibu? Selimut apakah yang sehangat pelukan ibu? Cinta apakah yang sedalam cinta ibu? Biar ribuan adipati gagah datang menghulur cinta dan kasih mesra, masih belum sehebat ibu. Ibulah perwiraku. Aku tenang sekali memelukmu.

HEART 22 08 2016

Rasa yang sama itu kembali. Hanya memijak rumputnya saja, jiwaku bagaikan sungai yang mengalir tenang menuju ke muara. Beroleng ke kiri kanan membuai sukma, menyanyikan lagu sang pungguk merindu. Sebagaimana darahku pernah tumpah di sini, begitu juga cinta yang melimpah ruah bagaikan air terjun yang hebat membelah belantara sunyi, menyeramakkan kehidupan tumbuhan dan mergastua. Maha…

HEART 21 08 2016

Mengerahkan seluruh tenaga dan jiwa, untuk membebaskan diri dari sebuah belenggu yang dipanggil memori. Mencari keampunan dalam gurun penyesalan. Kering-kontang dayaku meliliti kekecewaan kerana sebuah kesalahan, hasil rajutan sebuah rasa yang dipanggil keegoan.