PEMBURU DARAH (PO)

Tegak kaki, meniti genting atap Basah dinginnya Mata helangku, mengecil, menjegil Kau sendirian Bibirku tertawan, bagaikan hangatnya menyentuh kulit Nadi segar susup, menggetar saluran darah Rasanya mengecur pada lidahku Berdenyut, berdesah, menahan gejolak nafsu kian membuak Malam semakin larut Deruan angin kencang menampar pipi Saat aku melayang Menyambar lehermu lalu kubenamkan taring pada nadimu yang…

ERTI KUCUPAN TERAKHIR (PO)

Kucupan itu tidak membawa erti apa-apa Sekadar manifestasi otot-otot wajah Bukan cinta, tidak juga nafsu, atau persahabatan Kerana sukmaku sudah lama mati Untuk apa renungan itu? Bukankah kau menghunus belatinya? Walau seribu tahun lagi Kuburan cinta, itulah ia Bibirmu, hangat, lembut di bibirku, Berlalu melintas ke leherku Wajah dipaling Sepi… Di situ saja Tiada lagi…

JARAK KEHIDUPAN (PO)

Pada nafas pertama dan terakhir Di tengahnya, terbentang jalan panjang Dipanggil kehidupan Landai – lerai – jerlus – haus Cerun tinggi Kasar, tajam, penuh duri Henti tidak, rintih mengabur Adakalanya terlempar kau di lohong Gelap-gelita, bagai tiada dasarnya Terapung, memekik, pautan dicari Asa tidak putus, harapan tidak bulus Kembali kau memanjat, meraba sinar terang Terpanahnya…

PENJILAT DARAH PROLETARIAT (PO)

Tersenyum miring Lazatnya menghirup dari cawan derita Airmata – darah – keringat Sang proletariat Mereka bukan manusia, katamu tenang Lalu menghirup lagi Aroma sengsara – bugar Kenikmatannya … Orgasma yang bergelombang Setiap kali maruah mereka kau injak Golongan bodoh – tunduk Lalu tangan kau seluk dalam kocek mereka Keringat mereka, kering diperah Belakang mereka –…

ANAK SEMANGAT HUTAN (PO)

Belantara hidup Terkadang gelap zulmat Sesekali terang bersuluh Telinga ke tanah Jejak-jejak dibaca Pimpinan Akela Peribadi Raksha Tegas Bagheera menyentap Persahabatan? Baloo! Di mana kau? Masihkah sesat aku di sini? Bukan aku dari semangat hutan ini? Jauh, jauh, jauh Bukan jiwa ini Bukan di sini Malaysia 24 Oktober 2016

SESUCI SETAN (PO)

Mata pemangsa Tajam melirik pada darah-darah manis Di sebalik timbunan kitab-kitab suci Menyeringai setan Menelanjang peribadi munafik Yang dilempar jauh ke dasar lubuk-lubuk Agar tiada jiwa yang tahu kebenarannya Bibir menjilat rakus Pada hakikat hati-hati suci Datang padamu mengharap restu Di mata mereka, kau, tangan kanan Tuhan Bondong-bondong Rupanya kau Azazel durjana Datang membawa candu…

HARGA SEBUAH PENGKHIANATAN (PO)

Untuk apa wajah itu? Jiwa kau jual, Sanhedrin berdekah 30 syiling perak Begitu murah? Ciumanmu, bergulir serakah, cinta dan nafsu Gethsemane membungkam kelu Pengkhianatan! Bicara dilaung, kilat menyabung Rabbi! Rabbi! Ambil tanganku, jeritmu Iblis merasuk, bukan salahku Tali kau lempar pada pohonan Laksana kalung indah, kau lingkarkan ke leher Menjerut kehidupan sia-sia Berbaloikah Judas? Malaysia…

MENJUAL DIRI KEPADA KEMANUSIAAN (PO)

Tuhan … Tuhan … Tuhan. Aku memanggilMu setelah keringat terakhir ku titiskan air mata darah kurembeskan pada sekujur kemanusiaan yang kaku Tiada bernyawa Terlalu kecil tanganku, terlalu besar risauku Terlalu lebar citaku, terlalu dalam cintaku Padanya, yang sudah tidak bernafas Biar ciuman kehidupan hinggap di bibirnya Terlalu singkat hidupku, terlalu lemah kudratku Terlalu tersentuh hatiku,…

PERHITUNGAN (PO)

Kau-aku Patah menghambur darah Berpicing mata, menahan gerah Dekat padaku, bermain amukku Lidah bertikam, jiwa berpedang Ruang meringkik, luahan sengsara Garap enggan, tebar ampuh Laguh-lagah, kata-kata itu Tanganku, di mulutmu Biar pecah di dada Agar malam kekal bisu Sebagaimana biasa Malaysia 14 Oktober 2016

SATAH NAFSU DENDAM (PO)

Malam-malam Kamarku memekik ngeri Hawa sepi ditebar lagi Kaku Laksana Rumi Cintaku lepasi cakrawala mega Lalu menjunam tajam Satah Di rabung mendesit Pada sekujur rasa aneh Hunjam menghentak emosi Senyap Ketika kau hulurkan tangan Ku persetan segala khianatmu Lalu menggumpal dendam Darah Nafsu kita menyeringai Pada helaan nafas syaitan yang mampir Api … Marak ……

AKU!AKU!AKU! (PO)

Jelaga, kabut hati Desah senafas Capai cita selaut warna Serak debuan sangsi Keliru mencengkam Ah! Bingar! Diksi dikirai sesuka rasa Makna bergulir, jamah emosi tertunda Marilah! Sematkan licentia poetica Di dadaku Tutup mulut mereka Kerana aku ingin menikmati saat ini Sendiriku Nadaku Aksaraku Aku! Aku! Aku! Semua kepunyaanku Biarkan ia seindah ini saja Cemarkan jangan,…

KAPAN MATINYA JIWA PADA RASA CINTA (PO)

Dalam sepi yang berlagu Aku ‘dibunuh’ begini Rasaku mati sehingga kini Biar darahnya sudah kering Parut membekas Namun ia tidak pernah sembuh Aku tidak bisa membikin puisi cinta Biarpun berkali-kali aku cuba Biarpun sedaya-upaya Aku cuba mengingati kembali Rasanya Degupannya Sentuhannya Ia tidak pernah kembali Aku hidup, tetapi jiwaku mati Aku bernafas, namun sukmaku mengebas…