DETAK-DETAKAN (PO)

Si dia memejam mata
dan kakinya yang tidak bersepatu
perlahan memijak rumput yang basah
menyanyikan lagu kesengsaraan yang tiada noktah
Terasa sejuknya bumi
Terasa beningnya malam
Lalu terus diangkat kepalanya ke udara
maka pinggulnya digoyang
kakinya terhuyung-hayang
bagaikan kemabukan cinta
namun deras mengalir air mata
petanda bercampur baur rasa

7e48d26cd70761778c3e565232423915

Irama malam yang masih muda
satu, dua, tiga
bagaikan digubah sang maestro handalan
Cengkerik meringkik
Bayu membisik
Hujan merintik
Pungguk merengek
Bagaikan orkestra alam
yang tiada nota musiknya

Bagaikan terpesona
Si dia terus meliukkan badan
Ke kiri dan ke kanan
ke kiri dan ke kanan
menurut rentak alam

Hendak dirayu pada siapa?
Mahukah kau mendengar wahai dunia?

Menari dan terus menari
Agar hilang kangen di hati
Memutar dan terus memutar
Agar meruap ke udara rasa gusar
Akhirnya jatuh menyembah bumi
Tangannya menyapu rumput yang basah
Lalu disapukan pada wajah yang resah
Rasa itu masih ada

Lalu dijadikan bumi sebagai pembaringan
Matanya menghadap langit pekat
Mengharap Yang Maha Tinggi melihat
Kerana hatinya sudah bulat
Sampai di sini sahaja dia terikat
Pada jiwa yang tidak terlekat

Biar teguh berdiri sendiri
Biar pijar hatinya tegar
Lalu dia bangun
Memandang kehadapan
menguntum sukar sebuah senyuman
dalam keterpaksaan kakinya dihentak
berdetak terus berdetak…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s